My beloved tensimeter..
March 8, 2007 by elyasmine
Ini udah hari ke-5 sejak gue mulai memenuhi kepala gue dengan pikiran2 yang membuat gue sakit sendiri. Sekian panjang waktu yang sudah terentang, tapi dengan pikiran jernih dan dengan penuh kesadaran gue akhirnya berani membuang ‘denial’ dalam diri gue, dan gue pada satu kesimpulan bahwa waktu bukanlah our main goal.
Ada sesuatu yang lebih besar yang seharusnya kita (setidaknya gue) kejar, bukan cuma soal waktu. Kalaupun waktu terentang lebih panjang, seharusnya keputusan gue tetap sama. Trus..apa emang keputusan gue? Gue sendiri nggak tau apa yang gue inginkan.. Sejujurnya, gue nggak mau ngeliat kenyataan, gue mau terkungkung aja dalam denial dalam diri gue. Cukup menyenangkan kok hidup dengan perasaan ini..I can cope this. Tapi apa gue mampu begini sepanjang hidup gue?
Selama sekian menit dalam 24 jam yang gue miliki..kadang2 gue tersadar bahwa salah satu tujuan utama hidup gue adalah hal yang berbeda dengan yang gue miliki sekarang. Gue sedih banget, kepala gue penuh…gue nggak mau mengambil keputusan ini… Gue menyesali semua perbedaan ini..bukan tujuan hidup gue yang aneh2 kok..tapi gue menyesali kenapa gue nggak bisa mencapai tujuan itu dengan apa yang gue punya sekarang. Dan dalam kesadaran gue yang sesaat itu pula, gue sadar bahwa gue ternyata berharga, dan keberhargaan gue ini nggak dipengaruhi oleh perlakuan orang pada gue.. Gue cuma berharap gue cukup berharga di matanya..
Dan gue baca email seseorang yg cukup touchy hari ini : when in doubt, just take the next small step.
Gue nggak tau langkah besar apa yang sedang gue jalani, tapi langkah kecil gue adalah : gue mesti beli tensimeter yang baru di bursa dan melupakan tensimeter gue yang lama. Gue menyesali kenapa tensimeter gue mesti rusak.. Is it me yang nggak merawatnya dengan baik? Is it my fault all this time? Kalo bukan, trus kenapa??? Kenapa dia nggak bisa seperti dulu, kenapa pompanya mesti rusak, kenapa dia seolah2 memaksa gue membeli tensimeter baru.. Gue udah berusaha merelakannya seminggu ini, yah nggak penuh juga sih kerelaan hati gue. Nggak akan bisa rela rasanya, dia kan tensimeter gue selama bertahun2. Cuma Tuhan yang tahu apakah tensimeter gue bisa kembali seperti dulu. Kalaupun pulih, gue harap tensimeter itu masih inget kalo tensimeter itu dulunya punya gue…