Hampir 2 bulan yang lalu gue diberi tanggung jawab proyek buletin khusus untuk perempuan. Salah satu topik yang diangkat adalah kanker serviks karena buletin ini akan mendukung launching salah satu vaksin HPV, si penyebab kanker serviks.
.
Ada satu artikel yang selama ini gue hindari. Artikel testimonial dari penderita Ca Cx yang berhasil survive. Semua orang di kantor gue menganjurkan agar gue meminta seseorang yang amat gue sayang untuk mengisi kolom ini. Gue setuju aja.
.
Dari awal gue udah menyisihkan artikel ini. Gue males nulisnya karena mesti melibatkan perasaan instead of hal2 ilmiah yang notabene bisa gue cari di jurnal. Gue males ngomong sama orang yang gue sayang itu mengenai hal ini, seperti membuka kembali kenangan2 buruk masa itu. Hampir dua bulan berlalu, gue udah lupa ada kewajiban nulis ini, sampai minggu lalu saat gue harus mulai menyerahkan semua artikel ke bagian design.
.
Gue mulai buka komputer dan berusaha menulis. Baru berhasil nulis satu kalimat lead, gue udah stuck.
.
Lalu gue sadar, masalah sebenarnya adalah gue nggak tahu apa-apa tentang orang ini waktu ia sakit. Yang gue punya adalah hal-hal dari sudut gue, gimana gue kaget saat mendengarnya, gimana gue melihat dia tidak tergoyahkan oleh penyakit itu, gimana gue berdoa supaya nyawanya ditukar dengan gue saat itu, pokoknya semua dari mata gue. Gue nggak tau gimana perasaannya, apa aja yang jadi ketakutannya, bagaimana ia mengalahkan pikiran2 aneh yang kerap timbul saat kita divonis sesuatu yang buruk, gue nggak tahu apa-apa.
.
Akhirnya gue meminta ia menulis sendiri. Saat ia menyerahkannya pun gue agak males bacanya. Males membiarkan perasaan gue terkena dampak karena membaca hal2 yang akan bikin gue sedih. Beberapa jam setelahnya, ia bertanya dengan antusias, ‘Artikelnya OK nggak?’. Gue jawab, ‘OK. Nanti kuperbaiki sedikit.’ Padahal sebenarnya gue belum baca semua. Gue baru baca satu paragraf pertama dan gue udah nggak kuat. Langsung gue close filenya.
.
Baru sekarang gue baca, 4 hari setelah artikel itu gue diemin di inbox email gue. Rasanya sedih banget bacanya. Kenapa waktu itu gue masih kecil ya, belum bisa dijadiin tempat bersandar. Di artikel ini terlihat juga sisi rapuh perempuan ini, padahal selama ini gue mengenal dia sebagai orang yang tangguh. Ternyata dia mengalami ketakutan yang sama seperti perempuan lain. Yang lebih berat lagi, bahkan dia mengaku mengalami the pain yang sama seperti orang lain, satu hal yang nggak pernah diceritakannya pada gue. Ya iyalah Min, itu kan biasa. Tapi bagi gue, itu nggak biasa!
.
Sebenarnya saat gue menulis blog ini, gue baru baca artikel itu satu kali. Tanpa perbaikan, gue langsung close filenya. Untuk mengedit, gue perlu baca beberapa kali, dan kayanya gue nggak kuat baca itu berulang-ulang. Gue juga gak tega nyuruh temen sesama redaksi gue untuk ngedit itu. Actually, gue jadi ragu memberikan artikel ini untuk buletin. Apa gue cancel aja ya..
.
Artikel ini mungkin biasa bagi orang lain, mungkin cuma akan dilihat seperti kasus Ca Cx lainnya, seperti gue membaca bagian clinical findings dalam bab Cervical Cancer di LANGE. Ya gue tau sign&symptomnya, lalu kenapa? Nggak ada yang mengena di hati (ya iyalah, siapa sih yang baca textbook pake perasaan?). Tapi bagi gue, apa yang ada di artikel itu lebih dari sekedar clinical findings. Maybe it’s just me being menye, tapi itu adalah bagian pribadi dari hidup seseorang yang amat gue sayang. Memberikan sisi dirinya untuk dibaca publik, apalagi bagian yang rapuh dalam hidupnya.. gue gak tega..walaupun itu bisa jadi pembelajaran untuk banyak orang.
.
Biarpun dia nggak pernah memberi tahu gue sebelumnya mengenai sisi rapuhnya itu, nilai ketegarannya nggak berkurang sedikitpun di mata gue.
Kenyataan bahwa dia mampu berdiri lagi setelah jatuh terpuruk tanpa dukungan orang di sampingnya, itu bikin gue salut.