Living with CHF grade III-IV
November 28, 2007 by elyasmine
<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Beberapa
hari yang lalu, gue ditelpon oleh tante gue yang memberitahu bahwa om
gue ada di IGD RSCM. Ah palingan edema paru, toh om gue juga sering
edema paru karena dia bandel mengutak-atik dosis Lasix-nya, pikir
gue. Yang nggak gue sangka adalah dia ternyata ada di ruang
resusitasi! Langsunglah berangkat gue ke sana dengan pikiran2 gak
bener di otak. Selama perjalanan, gue ngebayangin ruang resusitasi
RSCM, ruang untuk keadaan yang berat..
.
Lalu
gue sampe di sana, ternyata om gue tenang dan udah on monitor.
Keadaan umum dan tanda vital stabil, posisinya tiduran, gue jadi agak
tenang. Pasien edema paru bisa tiduran pasti artinya bagus. Monitor
EKG-nya sinus takikardi penuh dengan ventricular
extrasystole (VES).
Setiap 2 siklus, pasti timbul VES, kadang-kadang bisa 2 atau 3 dalam
sekali siklus monitor.
.
Pas
gue dateng, dia bilang “Om lagi enak-enaknya nih Min, nggak sesak
sama sekali.” I was so much relieved hearing that. That 2 ampules
Lasix was doing their job well.
.
Gue
sempat duduk sekian lama di ruang resusitasi, melihat punggung om gue
yang berbaring miring sementara keluarganya lagi mengurus ICCU. Hidup
dengan Congestive
Heart Failure (CHF)
grade III-IV, gimana ya perasaannya? Sesak dengan aktivitas ringan,
bahkan kadang tanpa aktivitas pemicu.
.
Selama
gue kuliah, yang menjadi perhatian gue pada pasien CHF cuma balans
cairan dan pengaturan dosis. Nggak pernah kebayang gimana rasanya ada
di sepatunya pasien, yang perlu juga hiburan, perlu tujuan hidup,
perlu aktivitas sehari-hari yang bisa numbuhin semangat, dan segala
hal yang bisa membuatnya berpikir positif di tengah penderitaannya.
.
Kebayang
nggak kalo kita jalan ke kamar mandi aja susah? Kalo dipaksa jadi
sesak dan timbul nyeri dada kaya diremas dan ditekan yang bertahan 2
jam? Padahal di saat yang sama kita diberikan Lasix yang bikin pipis
terus. Kalo pake kondom kateter terus rasanya nggak nyaman. Kalo pake
pispot jadi ngerepotin orang rumah, sementara orang rumah punya batas
kesabaran dan terkadang pun lelah. Akibatnya jadi malas minum Lasix.
Dosis dibagi 2 atau diminum 2 hari sekali atau dimanipulasi dengan
cara apapun. Beberapa saat merasa enak karena nggak harus bolak-balik
pipis, tapi several days later ended up in ICCU. Ini yang terjadi
pada om gue kira-kira ½ tahun yang lalu.
.
Kebayang
nggak kalo kita menderita penyakit jantung dan dokter bilang fungsi
jantung kita cuma 22%? Lalu kita dianjurkan masang kateter jantung
supaya pembuluh yang menyempit bisa melebar lagi. Tapi di tengah2
prosedur, kateter gak bisa masuk. Penyempitannya sudah severe.
Pilihan bypass juga nggak bisa ditempuh karena sudah terlalu berat.
Lalu apa? Kebayang kan susahnya hidup sambil melihat masa depan yang
berprognosis dubia ad malam, kalau nggak boleh gue sebut malam.
Kemarin om gue nanya, “Min, kamu pernah ngeliat pasien dengan
fungsi jantung seberapa yang masih bisa hidup?”
.
Kebayang
nggak kalo perut begah karena terkumpul cairan di dalamnya? Mungkin
juga ada stress
ulcer
yang bikin perut nggak bisa nerima makanan. Rasanya ingin muntah dan
kembung. Minum Lasix juga nggak bisa, apalagi 7 jenis obat lainnya.
Akhirnya dipaksa minum Lasix, tapi lama-lama nggak masuk juga. Makan
nasi juga nggak bisa. Sepuluh hari bertahan dengan keadaan demikian,
tiba-tiba berasa nyeri dada dan sesak. Lalu ended up di ruang
resusitasi dan harus masuk ICCU lagi. Ini yang terjadi 2 hari yang
lalu.
.
Gue
seneng ada di sebelah om gue, duduk di atas tempat tidurnya, megang
tangannya, mengusap punggungnya, hal2 yang dulu nggak mungkin banget
gue lakukan. Kata keluarganya, dia semangat kalo gue dateng. Gue
ngobrol ngalor ngidul sama dia dan tante, sesekali dia tersenyum
dengan jokes gue. Gue rasa dia terlalu lelah kalo ketawa. Dia
semangat ngomongin penyakitnya, nasehatin nyokap gue biar nggak kena
hal yang sama, berusaha meyakinkan nyokap gue supaya eyang uti dari
pihak nyokap mau dikateter karena it’s so painless. Kemarin gue
dateng maghrib dan dia ternyata nanyain gue dari siang. Gue seneng
deh dia masih inget gue, yang notabene cuma second-class citizen
di dalam keluarga besarnya.
.
Gue
cuma pengen dia hepi..
Betul min. Peran kita untuk keadaan seperti itu, menurut gw, meningkatkan quality of life. Which is, make him happy.