Feed on
Posts
comments

At a crossroad

This morning, I was about to do something that made some of my friends and my dearest mom thought I was going mad. Actually I was a little bit confused lately. I had nightmares, I talked in my sleep, and my mood was grumpy. Those things happened because I was on a crossroad and I didn’t know which path I should take.

And today, just as I was convinced about the path I would take, many things happened beyond my expectation. I received many unusual phone calls from my friends whom I thought wouldn’t call me to offer me something I was looking for.

In about 10 minutes, my decision was absolutely changed 180o. My burden that had been troubling my mind for weeks were suddenly lifted. The fact that dr.Hardiono, my boss, was out of town turned out to be a fortune because I haven’t told him about my previous decision.

I’m very much relieved right now. The phone calls I received today, the offerings, and all the miserable thoughts I had in mind must happen for a reason. And I know He leads me through all. Those things I’ve been through today are proof of His Loving Hands holding mine through darkness.

I hope this decision I made is the right one. Many obstacles I might find ahead, I’m sure I could handle them because He is just right beside me.

Ps. Len, in spite of the bumpy roads we might see for the next few weeks, something good is about to come! It’s just a little further than the bumpy roads in the horizon so we might not see it. But it’s there!!

Ca Cx

Hampir 2 bulan yang lalu gue diberi tanggung jawab proyek buletin khusus untuk perempuan. Salah satu topik yang diangkat adalah kanker serviks karena buletin ini akan mendukung launching salah satu vaksin HPV, si penyebab kanker serviks.

.

Ada satu artikel yang selama ini gue hindari. Artikel testimonial dari penderita Ca Cx yang berhasil survive. Semua orang di kantor gue menganjurkan agar gue meminta seseorang yang amat gue sayang untuk mengisi kolom ini. Gue setuju aja.

.

Dari awal gue udah menyisihkan artikel ini. Gue males nulisnya karena mesti melibatkan perasaan instead of hal2 ilmiah yang notabene bisa gue cari di jurnal. Gue males ngomong sama orang yang gue sayang itu mengenai hal ini, seperti membuka kembali kenangan2 buruk masa itu. Hampir dua bulan berlalu, gue udah lupa ada kewajiban nulis ini, sampai minggu lalu saat gue harus mulai menyerahkan semua artikel ke bagian design.

.

Gue mulai buka komputer dan berusaha menulis. Baru berhasil nulis satu kalimat lead, gue udah stuck.

.

Lalu gue sadar, masalah sebenarnya adalah gue nggak tahu apa-apa tentang orang ini waktu ia sakit. Yang gue punya adalah hal-hal dari sudut gue, gimana gue kaget saat mendengarnya, gimana gue melihat dia tidak tergoyahkan oleh penyakit itu, gimana gue berdoa supaya nyawanya ditukar dengan gue saat itu, pokoknya semua dari mata gue. Gue nggak tau gimana perasaannya, apa aja yang jadi ketakutannya, bagaimana ia mengalahkan pikiran2 aneh yang kerap timbul saat kita divonis sesuatu yang buruk, gue nggak tahu apa-apa.

.

Akhirnya gue meminta ia menulis sendiri. Saat ia menyerahkannya pun gue agak males bacanya. Males membiarkan perasaan gue terkena dampak karena membaca hal2 yang akan bikin gue sedih. Beberapa jam setelahnya, ia bertanya dengan antusias, ‘Artikelnya OK nggak?’. Gue jawab, ‘OK. Nanti kuperbaiki sedikit.’ Padahal sebenarnya gue belum baca semua. Gue baru baca satu paragraf pertama dan gue udah nggak kuat. Langsung gue close filenya.

.

Baru sekarang gue baca, 4 hari setelah artikel itu gue diemin di inbox email gue. Rasanya sedih banget bacanya. Kenapa waktu itu gue masih kecil ya, belum bisa dijadiin tempat bersandar. Di artikel ini terlihat juga sisi rapuh perempuan ini, padahal selama ini gue mengenal dia sebagai orang yang tangguh. Ternyata dia mengalami ketakutan yang sama seperti perempuan lain. Yang lebih berat lagi, bahkan dia mengaku mengalami the pain yang sama seperti orang lain, satu hal yang nggak pernah diceritakannya pada gue. Ya iyalah Min, itu kan biasa. Tapi bagi gue, itu nggak biasa! 

.

Sebenarnya saat gue menulis blog ini, gue baru baca artikel itu satu kali. Tanpa perbaikan, gue langsung close filenya. Untuk mengedit, gue perlu baca beberapa kali, dan kayanya gue nggak kuat baca itu berulang-ulang. Gue juga gak tega nyuruh temen sesama redaksi gue untuk ngedit itu. Actually, gue jadi ragu memberikan artikel ini untuk buletin. Apa gue cancel aja ya..

.

Artikel ini mungkin biasa bagi orang lain, mungkin cuma akan dilihat seperti kasus Ca Cx lainnya, seperti gue membaca bagian clinical findings dalam bab Cervical Cancer di LANGE. Ya gue tau sign&symptomnya, lalu kenapa? Nggak ada yang mengena di hati (ya iyalah, siapa sih yang baca textbook pake perasaan?). Tapi bagi gue, apa yang ada di artikel itu lebih dari sekedar clinical findings. Maybe it’s just me being menye, tapi itu adalah bagian pribadi dari hidup seseorang yang amat gue sayang. Memberikan sisi dirinya untuk dibaca publik, apalagi bagian yang rapuh dalam hidupnya.. gue gak tega..walaupun itu bisa jadi pembelajaran untuk banyak orang.

.

Biarpun dia nggak pernah memberi tahu gue sebelumnya mengenai sisi rapuhnya itu, nilai ketegarannya nggak berkurang sedikitpun di mata gue.

Kenyataan bahwa dia mampu berdiri lagi setelah jatuh terpuruk tanpa dukungan orang di sampingnya, itu bikin gue salut.

The dark side

Tiap orang punya sisi lain. Nggak selamanya sisi lain itu nyeremin, membahayakan orang lain, dan berkonotasi psikiatrik. Tapi kenapa disebut sisi lain? Karena sisi itu berbeda dengan yang kita lihat sehari-hari. Apa yang ada di superfisial, belum tentu sama dengan yang di profundus. Apa yang di permukaan, bisa aja nggak sama dengan yang di dalam.

.

Setelah bicara panjang dengan teman gue kemarin malam, gue jadi makin percaya sama kalimat itu. Tiap orang emang pasti punya sisi yang disembunyikan. Ruang kebebasan di mana dia bisa bereaksi semau dia tanpa dihalangi oleh yang namanya kesopanan, adat, persepsi orang, dan gak dibatasi oleh hak-hak orang lain. Ruang pribadi untuk alur pikir rumit dan ribet yang gak ingin diketahui orang lain.

.

Sisi aneh, gelap, nyleneh, atau apapun itu namanya memang ada. Tapi, hal itu nggak sepatutnya bikin kita memutuskan pertemanan kan? Dalam pertemanan itu wajar kalo kadang kita kaget melihat sisi lain seseorang. Walaupun menyakitkan juga saat melihat sisi lain yang beda jauh dengan yang kita visualisasikan selama ini, apalagi when it comes to someone you look up to.

.

We only see what we want to see. Gue percaya banget statement ini. Orang yang kita visualisasikan baik, tetep aja terlihat baik dengan banyak walaupun. Biarpun kita tau ada sisi lain yang ‘gelap’ di baliknya, tapi selama kita menginginkan dia terlihat baik, maka sisi gelap itu ya nggak akan muncul ke permukaan. Kalaupun muncul, akan ada sejuta alasan pembenaran.

Sebaliknya, orang yang udah terpersepsi buruk, tetap aja terlihat buruk segimanapun orang itu udah mencoba bersikap baik. Hampir semua hal memang terletak di dalam pikiran.

.

Pribadi yang unik. Ini kata teman gue menyimpulkan pembicaraan kita. Setiap orang emang terlahir unik. Sisi gelap masing-masing juga unik. Dan siapa gue untuk menghakimi seseorang kenapa dia kadang bereaksi aneh dan kadang menyimpang dari paradigma yang gue anggap sebagai garis normal. Kalau garis normalnya berbeda dengan gue, itu hak dia kan? Hak gue juga untuk berbeda. Dan kalau alasan kenapa garis normalnya berbeda dengan gue dapat gue pahami, mungkin gue bisa mengerti sudut pandangnya.

.

Lagi-lagi, memang akan timbul sejuta pembenaran.

.

PS. Jangan cape ya Mi dengerin gue saat gue memunculkan berbagai alasan untuk membenarkan orang lain dan mencoba mengerti garis normal mereka. Tapi iya kan Mi, semua orang punya garis normal masing-masing. Jadi walopun menurut lo itu udah di luar batas normal lo, tapi semua perbuatan dinilai berdasarkan alasannya kan? *plis min!*

Liburan panjaaang

Senengnya liburan ke Malang
brg keluarga kecil gue. Nggak nyangka kita
bertiga bisa juga menempuh Jakarta-Malang dgn mobil. Thanks to Theo yg bisa
nyetir dgn cepat-akurat dan presisi tinggi sehingga dapat menelusup dgn jarak
minimal dengan kendaraan lain, terutama yang beroda
dua. Halaah keren banget bahasa gue! Maksud gue, lo suka nyelip2 walopun
sebenernya nyaris nyerempet motor! :D Weits,tapi gw
juga nyetir lho! Jakarta-cikampek dlm 4 jam, ajegilee..paha rasanya sampe mati
rasa nginjek kopling gigi 1-gigi 2 mulu. Pokoknya dari total perjalanan 24 jam,
gue nyetir 7 jam.. Tentunya bukan nyetir ala orang kebelet kaya lo Te hehe..

 

Kegiatan gw di Batu-Malang
mostly hanya MAKAN. It’s the right time untuk perbaikan gizi kan. Tapi tolong
ya, buat yang ngatain IMT gue 15, I’m not. Penghinaan berat! I’m within normal
range gitu loh, and it means above 18!

 

Badut
Kita n
gerayain
ultah Theoteblung di gang Jangkrik. Uuh so delicious,
walopun eyang mesti dibeliin oksigen afterwards
!



.

.

.

.

Kediri3_1
Trus kita k
e Kediri ziarah ke gua
Maria Poh Sarang. Eeh, ketemu ibu2 dari paroki
gue yang ternyata lagi pada ziarah ke sana juga. Tapi sayang, yang gue kenal
cuma satu, itupun gue gak yakin namanya :( Ada temen kuliah gw juga, Diana,
yang nyasar ikut ziarah paroki bonaventura.. Tapi sayang kita gak sempet sapa2an ya Di..elo sih milih duduk deket romo
sementara gw sih cukup di luar angin2an sambil godain anak kecil hihi..

.

Trus sempet ada
debu di depan rumah dan di atap mobil, gara2 aktivitas Kelud. Untung nggak meletus, setidaknya sampai sekarang..

Sekarang udah berakhir deh
liburan..Kembali lagi
ke rutinitas dan tentunya deadline2 itu, ujian kompetensi, huaaa!!

 
Gue bener2 looking
forward ke akhir tahun, di mana surat keramat yg bernama STR udah keluar,
daftar PTT, and start painting my life!

 

Ini dia percakapan gak bermutu dengan seorang cowo Tjupu (you know who lah!). Gue sih menjaga perasaannya dengan nggak menyebutkan nama aslinya.. Gue khawatir kalo diketahui khalayak ramai, banyak orang jadi nggak mau nonton lagi sama dia.
.

"Mau duduk di mana nih?" kata seorang cowo Tjupu tepat di depan mbak penjaga loket.
"Di Row A aja, paling belakang!" kata cewe Y
"Idih, jauh amat! Nggak mbak, di row G aja."
"Wih! Depan amat! Nggak mbak, di row D aja."
"Ya udah mbak, di row E aja." kata si Tjupu.
Sambil menjauhi loket, si Y masih protes, "Kan ntar layarnya gede banget. Pusing ngeliatnya."
"Nggak kok…gue biasanya nonton paling depan."
"Hih??"
Hmm.. gue mulai berpikir gue nonton sama orang yang salah… aneh!
.

"Maaf Mas, ini BCA card nggak bisa dipake. Satu minggu maksimal empat."
"Loh bukannya satu hari maksimal enam tiket?"
Halaaahh… ketauan banget sih lo ngayal n bokis! Hihihihi..
Tau gitu, gue gak nurutin kemauan lo duduk di row depan. Dimane-mane, keputusan itu dipegang sama yang megang kartu kredit doong!!

.

Di dalem bioskop:
"Aduh kok semua orang duduk di atas ya. Kok cuma kita berempat nih yang di depan."
"Kalo bangku belakang kita nggak ada orang, kita pindah aja yuk."
"Iya nih, ini layar gede banget sih. Bingung ngeliatnya."
"Ya gapapa kan Min. Lo kan jadi deket banget sama si Zeta-Jones."
Bener-bener orang aneh!

.
Buat yang berasa, yah gue ngerti sih kemauan lo, kegigihan lo, kekerasan hati lo dalam memegang prinsip bahwa nonton bioskop itu enakan di row paling depan. Kita sangat menghargai prinsip lo itu. Jadi kalo next time kita nonton bareng2 lagi, LO DI DEPAN SENDIRIAN !!!!!

*sigh*

Disrupted.

That’s all I can say about you from our conversation last night.

Looks smooth in superficial, but partly disrupted in profound.

It’s not totally your fault, I understand.

It’s the ‘mentally-destroying’ childhood that had turned you like this.

But since I’m related to you, then I should not be satisfied with things on the surface.
I must go deeper, though I don’t like it either.

.

You must know, I don’t like it either! 

What advantage do I get by mentioning those things to you?
Absolutely NOTHING!

Your anger is one of the possibility I already know from the start. But anyway, I take the risk! It’s for your own good.

And what is my motive? It’s for you to find out.

The answer is very simple if you care enough to look wider beyond your horizon.

.

Mission accomplished whether you like it or not.

Your response is not my concern.

I have done my part, and it’s your turn to keep the ball rolling.

Even if you won’t keep it rolled, I have nothing to do with it anymore.

It’s your life, indeed, and all decisions lay in your hands.

Signet of eternity

The day was when I did not keep myself in readiness for thee;

and entering my heart unbidden even as one of the common crowd,

unknown to me, my King, thou didst press the signet of eternity

upon many fleeting moments of my life.

.

And today when by chance I light upon them and see thy signature,

I find they have lain scattered in the dust,

mixed with the memory of joys and sorrows of my trivial days forgotten.

.

Thou didst not turn in contempt from my childish play among dust,

and the steps that I heard in my playroom

are the same that are echoing from star to star.

Rabindranath Tagore

.

One of my fave..

Very nice.

Intensi gue minggu ini

Gue mendapat kabar yang nggak gitu menyenangkan lately.

.

.

Saudara gue kena pneumotoraks spontan. Orangnya takut banget sama dokter dan rumah sakit. Sekalinya masuk RS kok langsung dipasang WSD (water sealed drainage) alias selang yang dimasukin ke dada dengan bius lokal. Kebayang deh gimana traumanya dia sama dokter. Untung udah keluar dari RS kemarin walaupun dengan wanti-wanti istirahat.

Saudara gue yang lain perdarahan lagi dalam 10 hari ini dan kemarin gue baru menjenguknya di Rasuna. Dengan transamin 3×500, gue harap perdarahannya cepat selesai. Konjungtivanya udah mulai pucat lagi, tapi nggak sepucat sebulan yang lalu. Kalo gue jadi dia sih, pastinya gue memilih operasi. Tapi kalo mau dengan obat aja, gue harap itu berhasil juga.

Dan ada satu teman baik yang SMS bahwa dia sakit lagi. Penyakitnya datang lagi.

.

.

Gue berdoa supaya mereka semua baik-baik saja.

Supaya saudara gue nggak lagi-lagi kena penyakit idiopatik. Nggak lagi berurusan sama dokter dan tindakan invasif.

Supaya saudara gue yang lain nggak lagi-lagi ber Hb 5. Udah cukup kayanya dia diinfus berulang2, semoga dia nggak mesti menjalani itu lagi.

Dan supaya teman baik gue itu bisa pulih lagi, bisa nyolot lagi, bisa becanda lagi, dan bisa ngerjain hal-hal yang seharusnya dia kerjain, Lo tau kan walopun gue nyolot dan gak perhatian sama lo dan lo juga gak perhatian sama gue, tapi gue sayang sama lo (dan gue tau lo sayang sama gue). Jadi cepetan ganti aktor picisan di mimpi lo dengan artis papan atas seperti gue :D

.

.

Dan supaya kamu serokonversi.

Terhindar dari selang-selang itu di masa depan.

Yang ini, intensi setiap minggu.

My first li’l talkshow

Yippiiyy, akhirnya berhasil juga gue melewati talkshow pertama gue.

Setelah melewati pagi yang rusuh karena dokumen kerjaan nyokap ketinggalan di kantor dan harus dianter ke rumah si Om Hans. Perjalanan pulang dalam gigi 4 gue tempuh dalam waktu singkat. Gue segera memoles muka dan berdoa semoga vitacid yang udah gue hentikan 2 hari tidak lagi menimbulkan efeknya dan berharap semoga antibiotik sudah bekerja pada satu pustul yang entah kenapa sangat menarik perhatian. Lalu gue cabut! Tapi ternyata Sudirman ditutup dan jalur lambatnya macet total. Oh God! Hampir nangis sambil nelpon Mas Rizal.  Tepat di saat gue nyampe parkiran Plaza Senayan, gue ditelpon oleh pihak panitia yang mengatakan bahwa acara segera mulai. Oh, just right in time!

Molaged_3

Untungnya semua lancar. Audiens ternyata sangat baik dan kooperatif. Suasana cair dan menyenangkanlah intinya. Mana MCnya seru, jadilah hari itu gue bahagia banget.

Begitu gue mau pulang, of all the sudden, seorang dari audiens berwajah Arab menghampiri gue. Dia nanya gue angkatan berapa di UI dan dia punya juga sodara ngajar di UI. Yang bernama dr.Ali. Hmm…Ali…Arab. "Oh, Anda keluarga Sungkar?"

Huuhhh of all the people I might meet, kok ya bisa2nya gue ketemu sepupunya dr.Ali Sungkar.. pembimbing kebidanan gue yang amatlah galak dan berhasil ngerjain gue, Estu, Erwin, dan Eri untuk membaca jurnal dan berbagai guideline dari Royal College. Di mana teman2 hanya baca buku merah atau Cakul dan pembimbing mereka udah puas, sementara kalo gue bilang gue baca buku merah ia akan bilang itu buku obsolete, kalo baca cakul, dia akan mencibir. Untungnya sepupunya dr.Ali ini asik, dan dia cerita nama iparnya sama dengan gue, Yasmine. Mm… gue mulai mikir nama itu pasaran!

Jadilah gue pulang dengan senyum dan kemacetan yang masih tersisa di ujung Sudirman bisa gue lewatin dengan hepi. Yippiiyy… next stop, Plaza Indonesia!

Cihuuyy!!

Wihiiiiyyy!!

Dream comes true!!

Untuk temen2 deket gue yang pastinya tau apa yang gue maksud, gue cuma mau bilang kalo gue seneng banget karena doa gue terjawab! What a blessing :D

Biarpun gue temporarily bankrupt, tapi seperti kata Dicky, semua bakal terbayar kan?

ps. Mi, kapan main ke rumah dan melihatnya? Huhuhuhu..

ps. Din, ini kalo lowbat, datanya ilang nggak ya?

« Newer Posts - Older Posts »